BACA JUGA:Manisnya Murbei, Manfaatnya Tak Terbantahkan!
Hadits ini kerap dijadikan rujukan dalam membahas isu-isu yang berkaitan dengan penyerupaan terhadap budaya atau kebiasaan yang bukan berasal dari ajaran Islam.
Dalam konteks tarian THR, sebagian pihak menilai bahwa jika benar gerakannya menyerupai tarian Hora, maka perlu ada pertimbangan serius mengenai pantas tidaknya umat Islam mengikuti tren tersebut.
Sudut Pandang Lain: Konteks Budaya dan Globalisasi
Di sisi lain, sejumlah pemerhati budaya menyampaikan pendapat berbeda. Mereka melihat fenomena seperti ini sebagai bagian dari dinamika globalisasi budaya.
Dalam era digital yang semakin terhubung, pertukaran budaya lintas negara dan komunitas menjadi hal yang tidak terelakkan. Kemiripan gerakan tari bisa saja terjadi tanpa niat untuk meniru atau menyerupai.
“Gerakan tari yang sederhana seperti langkah ke samping dan lompatan kecil bisa ditemukan dalam banyak bentuk tarian tradisional di berbagai negara,” ujar seorang antropolog dari Universitas Indonesia.
“Kita perlu bijak menilai apakah ini memang bentuk penyerupaan, atau hanya kebetulan yang kemudian menjadi viral karena konteks sosial dan visual yang menarik.”
Pakar media sosial juga menyoroti bahwa tren-tren viral seperti tarian THR umumnya berkembang secara spontan, tanpa perencanaan atau maksud tertentu.
BACA JUGA:Cedera Paksa Absen, Ginting Lewatkan Lima Turnamen Besar BWF
“Algoritma media sosial bekerja dengan cara mendorong konten yang menghibur dan bisa ditiru oleh banyak orang. Begitu sesuatu menjadi tren, orang cenderung mengikuti tanpa memperhatikan asal-usulnya,” jelas seorang analis tren digital.
Kontroversi yang menyertai tren tarian THR seolah menjadi refleksi dari tantangan umat Islam dalam menghadapi era digital.
Di satu sisi, media sosial memberikan ruang untuk mengekspresikan kebahagiaan dan mempererat silaturahmi melalui konten kreatif.
BACA JUGA:Estrogen Berlebih? Inilah 7 Penyebab Utamanya yang Perlu Diwaspadai
Namun di sisi lain, kemudahan akses informasi dan kecepatan penyebaran konten juga menuntut kehati-hatian, agar tidak terjerumus ke dalam sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai agama dan budaya.
Hingga saat ini, tarian THR masih terus menjadi bahan pembicaraan. Ada yang tetap menari dan menikmati, ada pula yang memilih menahan diri.